
Belitung, atau yang dikenal juga
sebagai Pulau Billiton, memiliki sejarah yang panjang dan kaya. Pulau ini telah
menjadi pusat perdagangan dan permukiman sejak zaman prasejarah.
Pada abad ke-7, Belitung menjadi
bagian dari Kerajaan Srivijaya yang berpusat di Sumatra. Selama periode ini,
Belitung menjadi pusat perdagangan rempah-rempah, terutama lada dan pala. Pada
abad ke-14, kerajaan Melayu di Selat Melaka menguasai Belitung dan memperkuat
kekuasaannya di kawasan tersebut.
Pada abad ke-17, Belitung menjadi
pusat perdagangan timah yang penting bagi bangsa Belanda. Belanda membangun
pabrik-pabrik pengolahan timah dan membawa banyak pekerja dari Tiongkok untuk
bekerja di sana. Selama masa penjajahan Belanda, Belitung dikenal sebagai salah
satu daerah yang paling makmur di Nusantara.
Setelah Indonesia merdeka pada
tahun 1945, Belitung tetap menjadi daerah penting bagi perdagangan timah dan
pertambangan lainnya.
Selain itu Pulau Belitung pernah tumbuh Kerajaan Lokal dan berkembang di Pulau Belitung diantaranya :
1. Kerajaan Badau
Kerajaan Badau adalah sebuah kerajaan yang pernah berdiri di Pulau Belitung pada abad ke-17 hingga abad ke-19. Kerajaan ini didirikan oleh seorang kepala suku bernama Datuk Kuning yang berasal dari kampung Badau.
Menurut legenda, Datuk Kuning mendirikan Kerajaan Badau setelah menemukan sebuah batu yang dianggap sebagai pusaka kerajaan. Batu tersebut ditemukan di dalam gua di daerah Batu Penyu, dan kemudian dijadikan sebagai pusaka kerajaan.
Kerajaan Badau pada awalnya hanya memiliki wilayah kekuasaan yang terbatas di sekitar kampung Badau. Namun, dengan keberhasilan mereka dalam memperluas wilayah kekuasaan, Kerajaan Badau menjadi semakin terkenal dan diakui oleh kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya.
Kerajaan Badau diperintah oleh raja-raja yang berasal dari keluarga Datuk Kuning. Salah satu raja terkenal dari Kerajaan Badau adalah Raja Ali. Ia dikenal sebagai raja yang cakap dan bijaksana, serta berhasil memperkuat dan memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Badau.
Pada abad ke-19, Kerajaan Badau mulai mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan oleh konflik internal antara anggota keluarga raja yang saling berebut kekuasaan. Selain itu, pengaruh kolonialisme Belanda juga turut memperburuk kondisi Kerajaan Badau.
Kerajaan Badau akhirnya lenyap setelah Raja Muhammad Ali meninggal pada tahun 1911 tanpa memiliki keturunan. Pada masa penjajahan Belanda, wilayah bekas kekuasaan Kerajaan Badau termasuk dalam wilayah Hindia Belanda dan menjadi bagian dari residentie Bangka-Belitung.
2. Kerajaan Balok
Kerajaan Balok adalah sebuah kerajaan yang pernah berdiri di Pulau Belitung pada abad ke-17 hingga abad ke-19. Kerajaan ini didirikan oleh seorang kepala suku bernama Raja Bilang atau Raja Belong.
Menurut legenda, Raja Bilang mendirikan Kerajaan Balok setelah menemukan sebuah batu besar yang dianggap sebagai tanda keberuntungan. Batu tersebut kemudian dijadikan sebagai simbol kekuasaan kerajaan dan diletakkan di depan istana kerajaan.
Kerajaan Balok pada awalnya hanya memiliki wilayah kekuasaan yang terbatas di sekitar kampung Balok. Namun, dengan keberhasilan mereka dalam memperluas wilayah kekuasaan, Kerajaan Balok menjadi semakin terkenal dan diakui oleh kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya.
Pada masa pemerintahan Raja Haji Muhammad Ali, Kerajaan Balok mencapai puncak kejayaannya. Raja Haji Muhammad Ali dikenal sebagai raja yang bijaksana dan berhasil memperkuat dan memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Balok. Selain itu, ia juga mengembangkan perdagangan dengan negara-negara tetangga seperti Singapura dan Johor.
Pada awal abad ke-19, Kerajaan Balok mulai mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan oleh konflik internal antara anggota keluarga raja yang saling berebut kekuasaan. Selain itu, pengaruh kolonialisme Belanda juga turut memperburuk kondisi Kerajaan Balok.
Kerajaan Balok akhirnya lenyap pada awal abad ke-20 setelah terjadinya perang antara Raja Haji Muhammad Ali dengan orang-orang Tionghoa. Wilayah bekas kekuasaan Kerajaan Balok kemudian menjadi bagian dari residentie Bangka-Belitung dalam wilayah Hindia Belanda.
3. Kerjaaan Belantu
Kerajaan Belantu diketahui muncul pada akhir abad XVII hingga awal abad XVIII, seiring dengan meluasnya pengaruh agama Islam di Pulau Belitung. Kerajaan ini didirikan oleh Datuk Ahmad yang bergelar Datuk Mempawah, berasal dari Kalimantan Barat. Awalnya, pusat pemerintahan Kerajaan Belantu berada di Kaki Gunung Luday dan wilayahnya dikenal dengan sebutan Belantu.
Selanjutnya, Kerajaan Belantu menjadi wilayah Ngabehi dari Kerajaan Balok, dan para keturunannya bergelar Kyai Agus. Pada masa pemerintahan KA Deraip (1851-1870), pusat pemerintahan Kerajaan Belantu dipindahkan dari Luday ke Membalong.
4. Kerjaan Buding
Kerajaan Buding tumbuh pesat pada akhir abad XVIII berdasarkan peninggalan sejarah berupa tanda pengenal Ngabehi Buding yang terukir dengan tahun 1799. Kerajaan ini didirikan oleh seorang ulama yang terkenal dengan sebutan Datuk Kemiring Wali Raib. Namun, sayangnya beliau meninggal secara misterius dengan cara "menghilang" tanpa meninggalkan bekas atau jasad yang dapat ditemukan.
Sejarah Masuknya Islam di Pulau Belitung
ejarah masuknya Islam di Pulau
Belitung tidak diketahui secara pasti. Namun, seiring dengan penyebaran Islam
di wilayah Nusantara pada abad ke-13 hingga ke-16, Islam kemudian menyebar ke
Pulau Belitung.
Menurut sejarah, penyebaran Islam
di Pulau Belitung terjadi melalui jalur perdagangan. Saat itu,
pedagang-pedagang dari Arab, Gujarat, India, dan Tiongkok datang ke Pulau
Belitung untuk berdagang. Mereka membawa serta ajaran Islam dan mengajarkannya
kepada penduduk setempat.
Selain itu, penyebaran Islam di
Pulau Belitung juga dilakukan melalui para pengembara dan penyebar dakwah dari
Jawa. Mereka datang ke Pulau Belitung untuk menyebarkan ajaran Islam dan
mendirikan pusat-pusat keagamaan seperti masjid dan pesantren.
Pada masa kolonialisme Belanda,
agama Islam di Pulau Belitung mengalami penindasan dan diskriminasi. Namun,
ajaran Islam tetap bertahan dan berkembang hingga saat ini.
Hari-hari besar Islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha di Pulau Belitung masih dirayakan dengan khusyuk oleh masyarakat setempat. Terdapat pula beberapa masjid dan pesantren yang menjadi pusat kegiatan keagamaan di Pulau Belitung hingga saat ini.
Masa Sekarang
Pada tahun 1990-an, pulau ini
menjadi terkenal setelah penulis Andrea Hirata menerbitkan novel "Laskar
Pelangi" yang mengambil latar belakang di sana. Sejak itu, pariwisata
menjadi industri yang semakin penting di Belitung, dengan banyak wisatawan yang
datang untuk menikmati keindahan pantai-pantai dan laut yang jernih, selain itu
Pulau Belitung memiliki banyak pekerjaan lokal yang menjadi sumber penghidupan
bagi penduduknya. Beberapa di antaranya adalah:
Pertambangan: Belitung dikenal
sebagai salah satu wilayah penghasil timah terbesar di Indonesia. Karena itu,
pekerjaan di bidang pertambangan menjadi salah satu yang penting di pulau ini.
Perikanan: Belitung memiliki
potensi perikanan yang besar karena terletak di sekitar Laut Natuna Selatan dan
Laut China Selatan. Banyak penduduk Belitung yang bekerja sebagai nelayan atau
pedagang ikan.
Pariwisata: Belitung menjadi
salah satu destinasi wisata yang terkenal di Indonesia karena keindahan
pantainya yang eksotis. Oleh karena itu, banyak orang di pulau ini yang bekerja
di industri pariwisata seperti penginapan, restoran, dan agen wisata.
Pertanian: Meskipun tidak sebesar
sektor pertambangan dan perikanan, pertanian juga menjadi pekerjaan lokal yang
cukup penting di Belitung. Banyak petani di pulau ini menanam padi, kelapa, dan
sayuran.
Kerajinan: Belitung terkenal
dengan kerajinan tangan seperti anyaman pandan dan keramik. Banyak penduduk di
pulau ini yang bekerja sebagai pengrajin dan menjual produk mereka di pasar
lokal maupun ekspor ke luar daerah.
Itulah beberapa pekerjaan lokal yang menjadi sumber penghidupan bagi penduduk Pulau Belitung.
Posting Komentar untuk "Sejarah Pulau Belitung"